Warga Dievakuasi Menggunakan Rakit Bambu dan Truk Pemadam Kebakaran
Evakuasi terhadap warga yang terjebak banjir di Tangerang menjadi salah satu fokus utama pemerintah setempat. Dalam situasi darurat tersebut, petugas gabungan melakukan upaya yang cepat dan terencana untuk menyelamatkan mereka yang terjebak di dalam rumah.
Banjir yang melanda perumahan di Tangerang telah menyebabkan banyak warga terpaksa mengungsi. Keadaan ini memerlukan tindakan segera agar tidak ada korban jiwa, terutama di kalangan anak-anak dan lansia.
Di antara momen kritis ini, tim penyelamat berhasil mengevakuasi beberapa bayi dan lansia yang membutuhkan perawatan medis. Hal itu dilakukan dengan menggunakan perahu karet untuk menjangkau lokasi-lokasi yang terendam air.
Proses Evakuasi Warga Terdampak Banjir di Tangerang
Di kawasan Perumahan Puri Kartika Baru, banyak warga yang harus meninggalkan rumah mereka. Ketinggian air mencapai 140 sentimeter, membuat banyak bangunan terendam.
Satu per satu, petugas menyisir area perumahan untuk mencari warga yang belum dievakuasi. Mereka berjalan menerjang banjir demi menyelamatkan nyawa, terutama bayi dan lansia yang rentan terhadap cuaca ekstrem.
Menurut informasi yang diterima, upaya evakuasi tidak hanya melibatkan satu instansi. Berbagai pihak berkolaborasi untuk memastikan setiap warga mendapatkan perhatian dan bantuan yang dibutuhkan.
Petugas juga memastikan bahwa kebutuhan dasar para pengungsi, seperti makanan dan obat-obatan, terpenuhi. Aula kelurahan menjadi tempat penampungan sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Berbagai tindakan ini menunjukkan betapa pentingnya koordinasi antarinstansi untuk menghadapi bencana alam. Warga merasa terbantu ketika melihat adanya kepedulian dari pemerintah dalam situasi sulit ini.
Evakuasi Lanjutan dengan Kendaraan Khusus
Pada saat yang sama, di Kecamatan Karang Tengah, evakuasi dilakukan dengan kendaraan yang lebih besar. Petugas menggunakan truk pemadam kebakaran untuk menyelamatkan pasien yang terjebak di dalam rumahnya yang terendam air.
Proses ini memudahkan awak penyelamat karena jalanan yang terendam membuat mobil ambulans tidak dapat diakses. Penggunaan truk memberikan alternatif bagi petugas untuk mengevakuasi dengan lebih efektif.
Evakuasi dengan truk juga melibatkan pengangkatan pasien yang terbaring di atas kasur bersama alat pernapasan. Hal ini memastikan bahwa setiap langkah dilakukan dengan hati-hati agar pasien tidak terkena masalah tambahan selama proses penyelamatan.
Sudah menjadi rutinitas bagi petugas damkar untuk beradaptasi dengan kondisi darurat semacam ini. Mereka memiliki pengalaman dalam situasi serupa dan tahu bagaimana cara terbaik untuk melakukan evakuasi.
Pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana semakin terasa, terutama untuk mereka yang berisiko tinggi seperti orang lanjut usia. Upaya luar biasa ini memberikan harapan bagi banyak warga yang terjebak dalam situasi sulit.
Kendala dalam Proses Evakuasi di Kecamatan Jayanti
Di sisi lain, Kecamatan Jayanti menghadapi tantangan tersendiri selama proses evakuasi. Banyak warga masih terjebak di rumah mereka karena kurangnya peralatan yang dibutuhkan untuk mengevakuasi semua orang.
Camat setempat, Yandri Permana, menyatakan bahwa kekurangan perahu karet adalah masalah utama. Meskipun ada beberapa perahu yang digunakan, jumlahnya tidak mencukupi untuk menanggulangi situasi darurat ini.
Banjir di Kecamatan Jayanti juga menyebabkan daerah-daerah lain terendam, menjangkau hingga empat desa. Total warga yang terdampak mencapai lebih dari 2.800 jiwa, dan jumlah pengungsi terus meningkat.
Salah satu titik terparah berada di Perumahan Taman Cikande, di mana ketinggian air mencapai 4 meter. Saat itu, evakuasi harus dilakukan secara tepat dan terkoordinasi agar tidak ada yang terlewatkan.
Meski petugas bekerja keras untuk mengevakuasi semua orang, mereka tetap mengalami kendala dalam hal personel. Keterbatasan jumlah orang membuat proses evakuasi berjalan lebih lambat daripada yang diharapkan.




