Gunung Ili Lewotolok di NTT dan Gunung Ibu di Malut Mengalami Erupsi
Gunung Ili Lewotolok yang terletak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, saat ini menunjukkan aktivitas erupsi yang tinggi. Pada Jumat pagi, terjadi total 162 kali letusan yang menarik perhatian masyarakat dan otoritas setempat.
Letusan tersebut menghasilkan kolom asap dengan tinggi antara 100 hingga 200 meter, berwarna putih dan kelabu. Fenomena ini tidak hanya menambah keindahan alam tetapi juga menimbulkan potensi bahaya bagi masyarakat di sekitarnya.
Petugas dari Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok, Yeremias Kristianto Pugel, melaporkan bahwa erupsi disertai lontaran material pijar yang terbatas di area kawah dan gemuruh dengan intensitas variatif. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap aktivitas gunung yang terus berlangsung ini.
Memahami Aktivitas Erupsi Gunung Ili Lewotolok secara Mendalam
Data terkini menunjukkan amplitudo letusan berkisar antara 15,6 hingga 34,2 milimeter, dengan durasi setiap letusan mencapai 40 hingga 50 detik. Meskipun demikian, status aktivitas masih berada di Level II, yang artinya masyarakat diminta untuk waspada namun tidak panik.
Cuaca di sekitar gunung saat ini cerah dengan kondisi berawan, dan suhu udara berkisar antara 24 hingga 30 derajat Celcius. Ini adalah kondisi yang mendukung bagi pengamatan yang lebih baik terhadap aktivitas vulkanik yang terjadi.
Pihak PVMBG mengingatkan agar masyarakat tidak memasuki radius 2 kilometer dari pusat aktivitas, serta memperhatikan area sektoral di sebelah selatan-tenggara dan barat hingga jarak 2,5 kilometer. Keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam situasi seperti ini.
Cara Menghadapi Potensi Ancaman dari Gunung Ili Lewotolok
Masyarakat sekitar dan pengunjung perlu memahami bahaya yang dapat ditimbulkan, termasuk potensi guguran lava dan awan panas pada sektor-sektor tertentu. Penting untuk selalu mengikuti petunjuk dari otoritas setempat agar terhindar dari kondisi berbahaya.
Laporan menyebutkan bahwa masyarakat tidak perlu panik saat mendengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah yang merupakan bagian dari aktivitas normal saat erupsi. Mengetahui fakta ini dapat membantu menurunkan kecemasan yang mungkin terjadi.
Informasi terbaru mengenai aktivitas Gunung Ili Lewotolok dapat diperoleh dengan mudah melalui koordinasi dengan Pos Pengamatan di Desa Laranwutun atau melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang berada di Bandung. Keterbukaan informasi menjadi kunci untuk menjaga ketenangan masyarakat.
Perkembangan Terbaru dari Gunung Ibu di Maluku Utara
Secara bersamaan, Gunung Ibu yang terletak di Halmahera Barat, Maluku Utara, juga mengalami erupsi. Pada hari yang sama, gunung ini menyemburkan abu vulkanik setinggi 400 meter di atas puncak, menarik perhatian otoritas dan warga setempat.
Letusan yang terjadi sekitar pukul 07.09 WIT, menghasilkan kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Informasi ini diperoleh dari pengamatan yang dilakukan oleh petugas di Pos Pengamatan Gunung Api.
Seperti halnya Gunung Ili Lewotolok, kondisi Gunung Ibu saat ini juga berada di status Level II, yang mengharuskan masyarakat untuk mematuhi protokol keselamatan dengan tidak mendekati radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Kewaspadaan adalah hal yang penting bagi masyarakat pada saat seperti ini.
Masyarakat di sekitar Gunung Ibu diminta untuk menggunakan masker dan kacamata jika terjadi hujan abu agar terlindung dari dampak negatif yang dapat ditimbulkan. Kesadaran akan pentingnya langkah-langkah pencegahan ini sangat diperlukan dalam menghadapi kondisi erupsi.
Pihak berwenang juga mengimbau agar tidak menyebarluaskan informasi yang tidak verifikasi untuk mencegah kepanikan, serta agar selalu mengikuti arahan yang diberikan oleh pemerintah daerah. Koordinasi antar instansi menjadi hal esensial untuk menjaga situasi tetap kondusif.




