Banjir Bandang Melanda Pati karena Masalah di Pegunungan Kendeng
Banjir bandang baru saja melanda Desa Ketitang Wetan, yang terletak di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Bencana ini terjadi akibat jebolnya tanggul di Sungai Gandam, yang tidak mampu menahan tingginya debit air hujan yang turun secara mendalam.
Menurut Kepala Pelaksana Harian BPBD Pati, Martinus Budi Prasetyo, jebolnya tanggul menciptakan dampak yang cukup luas, tidak hanya di satu lokasi tetapi juga menjangkau beberapa desa lain seperti Ngening dan Raci. Masyarakat di daerah tersebut merasakan langsung konsekuensi dari bencana ini yang membuat aktivitas sehari-hari terganggu.
Sejak akhir pekan terakhir, upaya perbaikan tanggul telah dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana. Meskipun demikian, curah hujan yang masih tinggi membuat banjir terus melanda wilayah sekitar.
Faktor Penyebab Banjir yang Terjadi di Pati
Martinus Budi Prasetyo menjelaskan bahwa bencana ini tidak terlepas dari permasalahan di kawasan Pegunungan Kendeng. Aliran air hujan dari pegunungan tersebut tidak dapat tertampung dengan baik, sehingga mengalir deras menuju Sungai Gandam.
Debit air yang melebihi kapasitas ini menjadi pemicunya terjadinya limpasan yang akhirnya menyebabkan tanggul jebol. Dengan kondisi seperti ini, pemukiman penduduk menjadi terendam dan berbagai sarana serta prasana yang ada mengalami kerusakan.
Saat ini, BPBD Pati telah mengerahkan relawan untuk membantu menangani kondisi pascabencana. Martinus turut mengimbau kepada masyarakat untuk aktif membersihkan saluran air agar terhindar dari kesulitan saat hujan turun deras kembali.
Langkah-langkah Penanggulangan Banjir di Masa Depan
Martinus juga menyatakan perlunya mengambil langkah jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa. Salah satunya adalah dengan melakukan program penghijauan di kawasan Pegunungan Kendeng, yang diharapkan bisa menahan air hujan lebih baik.
Kegiatan penghijauan secara masif dapat membantu meminimalisir risiko bencana, karena aliran air tidak langsung masuk ke sungai. Secara tidak langsung, hal ini juga berpotensi mengurangi material tanah yang mengalir dan menyebabkan sedimentasi.
Penting pula untuk memperhatikan kondisi aliran sungai yang dangkal. Dengan kondisi sungai yang tidak memadai, maka potensi banjir bandang akan semakin meningkat.
Kondisi Terkini dan Dampaknya bagi Masyarakat
Sekretaris Desa Ketitang Wetan, Ismail, melaporkan bahwa saat ini genangan banjir mulai surut, meskipun beberapa lokasi masih mengalami genangan. Beberapa daerah yang dekat dengan tanggul masih memerlukan perhatian lebih karena air belum sepenuhnya surut.
Meskipun debit air sungai menunjukkan penurunan, masih terdapat beberapa titik di desa yang tergenang air dengan ketinggian mencapai 50 cm. Hal ini adalah tantangan bagi masyarakat yang terdampak, terutama mereka yang tinggal di kawasan terdampak banjir.
Catatannya mencakup enam rukun tetangga (RT) yang masih dalam kondisi tergenang, menunjukkan betapa pentingnya perhatian dan penanganan yang cepat oleh pihak terkait. Masyarakat pun diharapkan untuk bekerja sama dalam proses pemulihan ini.




